Koran Cirebon(Ligung) - Geri Sukirman Sebagai Ketua Sanggar Seni Gema Parahiangan, Telah Melaksankan Festival Jaga Jarak Yang di Laksanakan di blok Lewimukti desa ligung Kecamatan ligung Kabupaten Majalengka.
26 Juni 2020 sekira pukul 13:30 Geri Sukirman Ketua Sanggar Seni Gema Parahiangan Yang Telah Menghimpun Pelaksanaan Festival Jaga Jarak Guna Mempersatukannya Seniman Dan Seniwati Se Kabupaten Majalengka, Geri Sukirman Melaksanakan Festival Jaga Jarak, Terinfirasi Oleh Situasi Seni Yang Selama ini Lumpuh Total Dampak Dari Pandemi Virus Corona/ Covid -19, blk Lewimukti Desa Ligung Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, Telah di laksanakanya Festival Seni Jaga Jarak, Sebuah Festival Budaya
Seni Yang Berbasis Protokol Kesehatan Covid-19.
Di Dalam Suasana Pandemi Menjelang New Normal, di laksanakanya Festival Jaga Jarak dan Semenjak pemerintah Memberlakukan atau edaran PSBB,Menyebarnya Edaran Pemerintah dan meletus di Seluruh Masrakat Indonesia Bahkan Sudah Mendunia, sekitar bulan Maret 2020.Covid-19 mengiringi kita untuk menuju kesunyiannya, Masing-masing menutup rapat-rapat pintu diri dari hiruk pikuk dunia serta memaksa kita mendaur ulang definisi definisi kesimpulan ataupun sekedar sebagai jeda Semejak Di Berlakaukanya PSBB Para Pelaku Seni Lumpuh Total Tidak ada Solusi dari Yang Berwenang Sekalipun. Menurut Ketua Sanggar Seni Gema Para Hiangan Geri Sukirman Menjelaskan, Festival ini Menurutnya Para Pelaku Seni.Lalu kesenian sebagai tempat persemayaman nilai-nilai hasil pencerahan dari oleh Cipta Rasa dan Karsa manusia.Sejatinya haruslah selalu hadir untuk menanggapi fenomena dunia Te Terlepas dari pandemi ini, Adalah hasil konfirmasi atau bukan yang pasti dampaknya adalah lahir Tiga Narasi besar yang diusung untuk kita bisa
Menghadapi pandemi ini dalam beraktivitas kembali yakni cuci tangan, jaga kebersihan, jaga jarak, memakai masker jaga wajah dan mulut.Tiga Narasi besar ini yang kemudian ditetapkan sebagai protokol covid 19. Paparnya.Kesenian yang dikemas dalam bentuk festival ini tentu saja adalah supaya menanggapi fenomena yang disebut diatas, Maka dimulailah dengan Ekspresimen untuk Menterjemah protokol Covid-19 Tersebut Menjadi Atraksi dan Artistik kesenian titik fokus Eksperimen Terutama pada protokol jaga jarak yang paling sulit kita jalankan karena
bentuknya yang gaib tidak berwujud tidak seperti masker dan air untuk Cuci Tangan
Dan untuk dapat memahami hal yang gaib dengan cepat itu tidak mudah untuk Kebanyakan orang, Hal ini pun diakui oleh Bapak Doni Monardo sebagai ketua gugus tugas nasional covid 19, Tentang Betapa sulitnya kita menjaga jarak Tambahnya.
Menurut Ketua Sanggar Seni Gema Parahiangan, Geri Sukirman, dan Kebetulan di Dalam Fsm( Forum Seniman Seniwati) Geri Menjabat Sebagai Ketua Seni Tradisional, Maka Di Dalam
Acara Festival Jaga Jarak, di Hadiri Berbagai Komponen di Antaranya, Ketua Forum Seniman Seni Wati di Hadiri Ketua bpk Dr Oman Surahman MM, dan Ketua( PKPM) H Badra Erawan Dan Dari Ekrap di Hadiri Sdr Deni, dan Para Ketua Rombangan Grup Seni Se Kabupaten Majalengka. Pelaksanaan festival Jaga jarak di Dukung Pemerintahan Desa Ligung Yang Di Wakili oleh Kepala Dusun Lewimukti Sdr Tata Casmita( Bonjor) di laksanakan tanggal 26 Juni Sebuah tanggal yang bersejarah dicabutnya edaran PSBB Tahap 3 untuk Itu seniman seniwati kabupaten Majalengka merasa berbangga hati dan mulai per tanggal 27 Juni Insan Seni dan pelaku seni bisa bernafas dengan lega imbuhnya.Dan hasil eksperimen adalah sebuah properti berbentuk lingkaran diameter 1m yang Akan dipakai oleh seluruh tim Festival tentu saja masker handsanitizer dan alat kesehatan lainnya untuk disiapkan.
Dengan semakin bertambahnya Property handrub dan kostum festival berbasis estetika dan protokol covid-19, Maka akan mempengaruhi ke seluruh alur Dramatik festival termasuk adegan-adegan dan strategi mengurai kerumunan penonton yang dipastikan akan rendah tingkat kesadaran jaga jaraknya di area Festival paparnya.
(Baron)



Post A Comment: